FF : Tried To Walk

a5f9f-1395319_309032252571647_1396887722_n

Tittle : Tried To Walk


Author : Jung Hana / Lily Hana


Genre :  Sad (maybe)


Starring:

Baro B1A4
Geum Mari (OC)
Sandeul B1A4
Gikwang B2ST

*

*Ini FF udah lama tapi di editlah bahasanya/?*

“Apa maksudnya ini Chagi?!” Baro menatap Mari dalam. Kecewa atas perlakuannya.

“Kita putus…” Mari memberi cincin -yang pernah diberi Baro- kepadanya.

“Tapi-” Baro menghampiri Mari yang ingin meninggalkannya.

“Maaf…” Mari memotong ucapan Baro. “Kita memang harus berpisah..”

Mari berjalan keluar taman meninggalkan Baro. Sementara yang dtinggal hanya diam seribu bahasa. Dia juga tidak tau apa yang harus di lakukannnya sekarang. Dengan langkah sendu, dia berjalan..

Hari ini musim gugur. Angin meniup pohon maple di ujung taman, angin itu juga memainkan rambut Baro. Daun-daun dari pohon maple itu terbang terbawa angin dan melayang-layang seirama dengan langkah kakinya.

Tiba-tiba langit biru berubah hitam gelap. Sepertinya langit itu tau betul perasaan Baro kali ini. Ia terus berjalan sampai akhirnya ia menemukan hamparan luas padang rumput dan juga tumbuhan mawar liar -yang bertengger lebat- ditengah padang rumput itu. Baro memetik sebatang mawar merah itu. Dia ingat, dulu Mari ingin sekali punya taman mawar dan akhirnya Baro mewujudkannya. Disini.

“Ah, kenapa aku jadi ingat itu?!”

Ia berbalik arah untuk pulang. Dia berjalan makin cepat sebelum airmata langit akan menghujani dirinya.

*

Begitu terkejutnya Baro saat melihat Mari bersama Lee Gi Kwang. Mereka terlihat sangat mesra sekali.

“Ya terserah kau sajalah.” Baro berlalu.

*

 

2 Hours later…


>Baro POV<

Aksi bunuh diriku ini membuatku mengingat setahun yang lalu
Flashback a year ago..

“Mari? Mari? Dimana kamu?” Aku mencari Mari dirumahnya. “Yaa! Mari-ah dimana kamu??”

Kemudian aku teringat Toko es krim tempat kesukaan Mari. Aku berlari ke toko itu dan ternyata tidak ada. Seorang lelaki paruh baya melihatku kebingungan.

“ Apa yang kau cari?” Dia menyentuh pundakku dari belakang yang membuatku reflek kaget.

“A..Apa ajhussi melihat perempuan berambut coklat ikal dan memakai gaun bunga-bunga selutut?”

“Oh.. aku tadi melihatnya. Dari toko ini dia pergi ke gedung sekolah.” Lelaki itu menunjuk ke sekolahku.

“Gamsahamnida…” Aku menunduk kemudian berlari ke gedung itu. “Mari-ah?” Aku melihat Mari diatas gedung sekolah itu. “ Yaa! Mari-ah!!” aku mengambil langkah seribu masuk ke gedung sekolah itu.

“Mari..” Aku memanggilnya perlahan setelah sampai diatas gedung sekolah ini. Mari menoleh, dia terlihat kaget kulihat lagi dia segera ingin menjatuhkan tubuhnya. “Jangan lakukan itu!” Aku mendekat, dia makin bersiap-siap untuk jatuh. “ Aku mohon jangan Mari-ah!!” Aku berlari kearahnya dan berhasil memeluknya duluan sebelum dia jatuh kebawah.

“Apa yang kamu lakukan Pabo!!” Teriak Mari.

“Itu bahaya! Kamu bisa mati!!” Ucapku khawatir.

“Tidak apa-apa, lagipula kamu melupakanku..” Ucapan Mari membuatku tercengang. Mari masih mengingat kejadian itu?!

“Aku tidak pernah melupakanmu..! ayo pulang” Aku menarik tangan Mari.

“Ani!” Mari membantak dan melepaskan tangannya dari genggamanku.

“Maafkan aku, sekarang ayo pulang..” Kataku sambil memeluknya erat yang berhasil membuat Mari patuh.

#Flashback End

Aku menutup mata perlahan dan menghirup udara  banyak-banyak. Yah, mungkin ini hirupan terakirku. Aku harap Mari mencegahku untuk jatuh..

“Yaa!” Panggil seseorang dengan suara cempreng. Aku membuka mataku dan menoleh. Ternyata bukan Mari.

“Ngg.. Hyung kenapa kesini?” Tanyaku.

“Hei kau mau bunuh diri?!” Sandeul menarik tanganku kuat-kuat. Aku menangkisnya.

“Ani.. biarkan aku mati!” Teriakku.

“Baro-ah, lupakan Mari.. yeoja itu bukan haya dia..” Sandeul sekali lagi menarik tanganku.

“Aku tau, tapi…”

“Ayolah kita pulang!”

>Baro POV end<

*

“Hiks.. apa aku pernah melakukan kesalahan?” Tangis Baro malam-malam. Sandeul -yang merasa risih dengan tangisan itu- bangun.

“Sudah ku bilang, yeoja itu banyak! bukan Mari saja!!” Sandeul menutup kepalanya dengan bantal.

Kriiing..Kriiiiiiiiiing…

Handphone Baro berbunyi tiba-tiba.

“Baro-ah! Besok temui aku di café ujung jalan. Malam, pukul 9!! Ini penting.”

“Wae?” Tanya Baro.

“Penting!”

Tuuut… Tuuuuuut..

*

Malam esoknya..

“Hyung, aku pergi!” Baro pamit.

“Mau kemana??” Tanya sandeul heran.

“Café di ujung jalan..”

“Jangan-jangan kamu mau bunuh diri lagi di tengah jalan..”

“Anii!! ada orang mengajakku bertemu kok..” Jelas Baro.

“Hati-hati!”

*

“Woah.. itu dia Café nya.” Baro menyebrangi jalanan yang sudah gak renggang itu. Ketika ia merogoh kantung celananya, ia menemukan cincin Mari. Ia menatapnya terus. Wajahnya terlihat murung mengingat itu.

Tiba-tiba sebuah sinar yang makin lama membesar itu berada di sampingnya.

Braakk!!

Sebuah mobil menabraknya dan melarikan diri. Tubuh Baro terpental sejauh 5 meter. Karena sepi, tidak ada yang menolong Baro yang sedang sekarat itu.

Kebetulan Sandeul sedang memata-matai Baro. Dia khawatir kalau sahabatnya itu mencoba bunuh diri lagi. Sandeul menangkap pandangan ke sosok yang dikenalnya.

“Yaa! Baro!!” Teriak sandeul dan menghampiri namja yang sekarat itu. “Kubilang jangan bunuh diri!!” Teriaknya lagi dengan nada mengomel juga khawatir.

“A.. aku…tidak bunuh diri..” Suara Baro parau. Darah segar mengalir dari kepalanya. “Gi…kwang…”

“Kenapa dengan orang brengsek itu?!”

“Dia menabrak..ku”

“Pokoknya-… Apa?! Dia menabrakmu?!”

Baro menangguk lemah “Aku..ingin kamu berikan..ini pada Mari.” Baro memberi sebuah kertas. “Aku sudah tau yang menelpon semalam itu Gikwang.. aku kira dia ingin bicara baik-baik padaku. Tapi dia..”

“Ternyata ingin mencelakaimu?” Sambung Sandeul.

“Tepat..aku tidak mau Mari dan kamu juga menderita sepertiku… jadi jauhi dia..” Ucap Baro terputus.

Malam itu, angin malam mengantar Baro untuk pergi.. bukan sementara… tapi selamanya. Air mata yang telah dipelupuk mata Sandeul akhirnya jatuh. Tidak kuasa melihat sahabatnya ini. “Baro!!”

*

Pagi pukul 9, Sandeul dengan wajah murungnya datang menghampiri Mari yang dengan ekspresi wajah yang sama dengannya.

“Mari-ah.. ini dari Baro.” Sandeul menyerahkan sabuah kertas. Mari mulai membacanya.

Mari-ah, maukah kamu menjaga Sandeul untukku? Putuskan saja Gikwang dia pasti tidak baik untukmu. Jangan mencari namja sepertiku ataupun Gikwang. Karena dimatamu aku pasti tidak baik kan? Harusnya kamu mencari namja seperti Sandeul yang selalu peduli dangan keadaanmu. Dia namja baik.. Jaga dirimu baik-baik! dan maafkan aku sebelumnya

“Dulu aku ingin punya taman mawar dan Baro mewujudkannya. Waktu aku ingin bunuh diri Baro yang mencegahnya. Dia salah! Dia bukan namja jahat seperti Gikwang.” Mari menjatuhkan air matanya. “Maafkan aku..”

“Ige..mawar untukmu.” Sambung Mari lagi sembari menaruh satu tangkai mawar merah di depan batu nisan didepannya ini dan Tersenyum.

Saat Mari dan Sandeul ingin meninggalkan pemakaman. Tiba-tiba angin berhembus dan terdengar suara Baro ..

“Gomawo chagi.. Gomawo hyung..”

Mari dan sandeul tersenyum. Air mata Mari makin deras “Cha Sun woo.. Saranghae!!” Teriak Mari sembari mendongak keatas. ” Saranghaeyo…”

“Selamat jalan……” Sandeul melanjutkan. kemudian tersenyum disela kesedihannya.

Dan..

‘Teriamakasih telah ada dihidup kami.’

Angin terus berhembus sampai menerbangkan dan maple kesukaan Baro. Daun maple terus beterbangan. tanda salam perpisahan.

-END-

sekali lagi maaf gaje, saya masih pemula..^^
Maaf kalo gak dapet feelnya >.< RCL ya

About matcha

siapa sih matchacino? || Amateur writer, amateur editor, ya pokoknya masih amateur || 99liner gaiz.

2 thoughts on “FF : Tried To Walk

give me your thoughts ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s