SKYLINE

Image

SKYLINE

Cast : B1A4’s Sandeul as Lee Sandeul / Gong Hyu Bi (OC)

Rate : +15

Genre : Romance

Length : Ficlet (2,204 words)

Author : Banaby

“Entah ini kutukan atau bukan namun aku bahagia menghabiskan seluruh hari pertama musim semiku denganmu. Gong Hyu Bi”

“Sepertinya langit sudah menggariskan takdir buruk kita ini”

—–

 

“Hatchi hatchi!”

“Kau sedang flu? Dihari yang cerah seperti ini?!”

Lagi – lagi ia memberikan sapu tangannya padaku yang kini tengah menggosok – gosok hidung gatal. Matanya menampakkan sebuah kehangatan namun tak bisa dipungkiri bila mata itu terlihat seperti sedang menggoda.

“Jangan pura – pura tidak tau! Kau bodoh!”
Tangan ku meraih sapu tangan hijau ditangannya cepat.
Sialan! Ia justru tertawa senang saat ini!

“Sepertinya melihatku menderita adalah sumber kebahagiaanmu ya?! Hatchi”

Ia kembali tertawa senang. Bola mataku bergulir menuju ke pojok kiri untuk melihatnya, lebih tajam. Ia mengerti. Aku marah.

“Tumben sekali kau ada dirumah. Nenek sihir itu sedang berhibernasi? Atau membuat ramuan baru?”

Kutekankan nada bicaraku hampir disetiap bagian. Tanpa melihat wajahku pun sepertinya ia mengerti kekesalanku memuncak.

“Wae? Kau cemburu?”

Pertanyaan bodoh yang selalu muncul dari balik bibir merahnya.
Aku mengabaikan pertanyaannya dan sibuk dengan kondisi hidungku yang semakin gatal. Kututup semua bagian terbuka sehingga udara dari luar tidak masuk kedalam rumah pohon kami. Rumah pohon yang dibuat oleh ayah ku dan ayahnya disaat usia kami menginjakkan kakinya di angka 10.

“Hyeri sedang mengantarkan ibunya berbelanja hari ini”

Aku kembali mengabaikannya dan kembali menutup semua lubang yang memungkinkan udara dari luar untuk masuk. Sejenak ku berhenti ketika mataku memandang keluar. Indah. Sangat indah. Hamparan kuning yang mengelilingi rumah kami. Itulah alasan aku tak pernah menyesal tinggal di Jeju. Bunga – bunga canola itu nampak nyiur dihempas angin yang menyentuh mereka lembut seperti sedang memanggil ku untuk berada diantara mereka. Kupu – kupu yang berterbangan lincah seakan setuju pada canola yang menggoda ku untuk turun dan menikmati keindahan musim semi tahun ini.

“Hatchi! Hatchi! Aassssh! Penyakit bodoh ini lagi!”
Ya, penyakit bodoh yang sangat menyiksa siapapun yang bertempat tinggal di sekitar Jeju. Sama hal nya ketika tinggal di Gwangyang, Julleonam-do dimana bunga – bunga indah selalu memenuhi ruang penglihatan insan manusia di musim semi. Alergi serbuk bunga yang kumiliki sejak lahir ini benar – benar menyiksaku.

“Hari pertama musim semi ku kenapa harus selalu sial!”

“Maksudmu?”

“Sejak kecil aku selalu menghabiskan hari pertama musim semi ku denganmu. Bukan dengan yeoja yang kuharapkan”
Aku melihatnya sinis. Mataku menyipit bagai elang siap memangsa.

“Hyak Lee Sandeul! Apa maksudmu?! Kau pikir aku suka?! Hatchi”

Sandeul terkekeh.

“Kau tau? Hari pertama musim semi itu adalah hari yang spesial”

Aku mengangguk seolah tau, tetapi kenyataannya aku tak peduli.
Kufikir tak ada gunanya kata – kata “spesial” itu jika aku belum bisa pergi ke festival bunga canola dan mengambil gambar ku yang sedang mencium kelopaknya disana.

“Noona-ku selalu bilang, hari pertama musim semi harus lah dilewati dengan orang yang kita cintai. Begitulah agar kisahnya berakhir bahagia”

“Mwo? Jadi kau tidak bahagia menghabiskan hari pertama musim semi dengan ku eoh? Begitu?”

Kulihat wajahnya mulai panik. Ekspresi menarik yang selalu ditunjukkannya ketika aku mulai marah.

“Ash! Kenapa kau selalu saja mudah marah?!”

Sahutnya seraya mengacak – acak rambut, yang sepertinya merupakan jurus andalannya saat ia mulai dibuat pusing oleh ulah ku yang kekanakkan.

“Jika kau mau, kau boleh meninggalkanku. Susul lah Hyeri !”

Ucapku ketus, kedua tangan kulipat didepan dada. Pandanganku, ku buang jauh jauh darinya.

“Terserah kau saja Gong Hyu Bi. Aku tau kau sedang tak ingin melihatku disini. Baik aku akan pergi!”

Ketika aku mengembalikan pandanganku kearahnya, sosoknya sudah tidak ada bersamaan dengan debam pintu yang mulai rapuh termakan usia.
Meski kecewa namun aku tau, ia tak mungkin menjauh dari ku dalam waktu yang lama. Mungkin sore nanti ia akan datang kerumah ku dan kembali menghabiskan biskuit kacang dikamarku.

Aku belum ingin turun masih ingin menikmati sedikit harum nostalgia dirumah pohon yang selalu menjadi bukti bisu sejarah ku dengan Sandeul selama 9 tahun belakangan. Kami berdua lah yang mendekorasi ruangan 5×8 meter ini.

Lihat saja, ruangan ini nampak sesak oleh karya kami berdua. Figura kami sejak masa sekolah dasar sampai kami lulus sekolah atas terpasang kokoh didinding, dibawahnya tampak tumpukan – tumpukkan majalah serta komik yang kami beli bersama, bahkan ada pula yang sengaja kami pinjam dari perpustakaan sekolah dan tak kami kembalikan. Mengingatnya membuatku malu. Kubuka satu persatu tumpukan kertas yang tersusun didalam map abu – abu. Gambar yang kami buat setiap sore disini. Aku tersenyum melihat karya kami. Tak jarang aku berdecak kagum manakala melihat gambar Sandeul yang memang jauh lebih baik dari ku. Sampai sekarang, gambar adalah sesuatu yang tak bisa terlepas dari seorang Sandeul.

Terasa sesak. Dadaku terasa penuh. Mendadak perasaan itu muncul ketika mataku menghantarkan gambar seorang perempuan dengan tulisan Lee Hyeri dibagian atas kertas itu menuju kediaman si tuan otak. Padahal aku tau, Hyeri memang lah gadis impian Sandeul sejak sekolah dasar.

Hyeri besar bersama kami. Dia adalah teman ku dan Sandeul sejak kecil. Namun hanya karna sebuah jepitan aku bertengkar dengannya. Hingga sekarang aku membencinya terlebih saat Sandeul selalu menyelipkan nama Hyeri ditengah percakapan kami. Pernah ia bertanya padaku sekali yang membuatku marah berhari – hari padanya.

“Kenapa kau membenci Hyeri? Wajar saja saat itu ia marah. Kau tau itu hadiah dari mendiang ayahnya!”

Untuk pertama kalinya dalam hidup ku. Sandeul meninggikan suaranya demi seorang gadis dan itu bukan aku.

“Lalu? Ia tak memiliki alasan untuk marah padaku yang jelas tidak mengambil miliknya! Jepitan ku juga hadiah dari ibu ku!”

Air mata mulai menggenangi pelupuk mataku. Mirisnya hal itu sama sekali tak menyentuh ruang hati Sandeul.

“Kenapa kau tak bisa mengalah sedikit saja untuknya Gong Hyu Bi?!”

“Mengalah?! Untuk apa?! Memberikan milikku untuknya?!”

Sandeul terdiam tak bereaksi. Tak ada balasan darinya. Mungkin ia mulai merasa bersalah sekarang.

“Minta maaflah padanya”

Mataku membelalak lebar

“Hah?! Dengar! Masalah ini adalah masalah lama! Sudah 2 tahun yang lalu dan Hyeri bisa saja sudah melupakannya, jadi Kenapa kau mengungkitnya lagi!!”

“Aku tidak akan mengungkitnya jika kau tak pernah memarahiku ketika aku menyebut nama Hyeri !”

Aku menelan saliva ku sendiri. Terasa berat. Terasa sakit. Terasa sulit. Bahkan untuk bernapas sekalipun.

“Baik. Mulai hari ini kau tidak akan pernah mendengarku marah. Bahkan berbicara sekalipun !!”

Aku turun dari rumah pohon kami dan berlari menuju rumahku disisi kanan. 5 hari setelahnya aku dan Sandeul sama sekali tidak bertemu pandang.

———

“Gong Hyu Bi!”

Tepat dugaanku. Junghwan datang dengan membawa setoples biskuit kacang digenggamannya.

“Tebak apa yang terjadi siang tadi!”

Aku mengangkat bahuku. Dan kembali pada handphone ditanganku.

“Mendapat kiriman persimmon dari nenekmu?!”

Jawab ku asal. Ia menggeleng cepat.

“Bukan. Bukan itu !”

“Lalu?!”

“Aku bertemu Hyeri di kebun forsythia milik tuan Han. Dan dia melambaikan tangannya pada ku!!”

Meski kesal mendengarnya namun aku berusaha acuh. Tak ingin memulai pertengkaran seperti beberapa waktu silam.

“Hatchi!”

Arrrgh pasti ada serbuk bunga yang menempel di T-shirt hitam bergambarkan singa miliknya.

“Hyak! Kau tidak mengganti pakaianmu dulu?! Hatchi”

Cengiran bodohnya muncul yang entah mengapa justru membuatku sempat berdebar.

“Mian… Aku tak sabar ingin bercerita padamu!”

Lagi, sesak menyeruak di palung hati ku. Seperti jantungku di pompa habis olehnya.

“Hatchi! Sana pergi bodoh! Kau membuat hidungku iritasi”

aku bangkit dari sofa, membuat saraf ku bekerja meminta bagian tubuh ku yang lain dengan terpaksa berjalan dan mendorong tubuh Sandeul untuk keluar dari kamar ku. Sialnya ia malah menahan dirinya dan berbalik arah sehingga membuat ketahanan tubuhku gentar dan kami terjatuh.

“Auw!”

Kami meringis bersamaan. Sakit yang kami alami menjadi dorongan utama untuk kami segera bangkit. Namun sayangnya, hal itu terhenti saat kami bertemu pandang. Entah apa yang difikirkannya saat ini hingga membuat manik matanya mengunciku. Tak bisa berkelik lagi. Aku hanya bisa menikmati ini.

Matanya yang tetap terlihat segaris meski kini tengah terbuka lebar. Pipinya yang masih chubby sisa sejarah diet kerasnya dulu. Hidungnya yang tidak terlalu mancung namun menjadi candu dimana sebuah garis bersemayam disana. Dan bibir bawahnya yang tebal mengingatkanku pada suaranya yang indah. Baru kusadari wajahnya semakin lama semakin mendekat, bahkan deru nafasnya bisa dengan lembut menyentuh permukaan kulit wajahku yang tengah tersipu. Berharap akan sesuatu aku menutup kedua mataku perlahan. Mengisyaratkan aku siap. Akan tetapi

“Hatchi !”

“Aaaash hyak Gong Hyu Bi !! Padahal hampir saja ! Aaash!!”

“Hampir saja? M-maksudmu?”

Terlihat kikuk. Seperti robot yang tengah kehabisan tenaga kimia nya, itulah yang bisa dengan tepat menggambarkan bagaimana Sandeul saat ini. Cepat – cepat ia berdiri dan membenarkan posisi bajunya sedang aku masih sibuk dengan hidung ku yang tak bisa bekerja sama dengan sang empunya.

“Aku harus kembali pulang!”

Sedikit tertawa namun aku menahannya.
Bagaimana tidak? Untuk pertama kalinya kulihat wajah laki – laki pecinta bebek itu merah padam. Sosoknya kabur menyisakan sedikit serbuk bunga dari tubuhnya yang merasuk ke dalam hidungku dan menggelitik disana.

——

Disinilah kami berada. Diberanda rumah pohon kami dan memandangi pemandangan malam yang mencuri perhatian siapapun yang lewat dibawahnya. Membuat kami terdiam dan hanya menikmati. Entah apa yang ada didalam benak Sandeul saat ini. Yang jelas aku, didalam pikiranku yang sempit sudahlah dipenuhi oleh segudang pertanyaan mengenai namja bodoh bernama Lee Sandeul.

Mengapa aku menyukainya?
Pertanyaan utama yang selalu mengusikku sejak dulu. Pertanyaan nomer wahid yang menghantuiku bahkan membuatku kesulitan untuk tertidur kadang.

Apakah ia menyukaiku?
Ya, aku tau, itu adalah pertanyaan terbodoh yang pernah muncul dalam pikiran seorang Gong Hyu Bi. Sudahlah jelas, si bodoh itu hanya mengerti satu hal tentang cinta. Ya cintanya adalah Lee HyeRi.

“apakah kau pernah merasakan jantungmu berdegup sangat cepat seperti sedang lari marathon?!”

Pertanyaan itu tak langsung kujawab. Tentu saja karna aku tidak tau siapa orang yang diajaknya bicara. Ia tak menoleh kearahku. Matanya terpaku pada jutaan bintang yang memantulkan sinarnya kemanik mata Sandeul.

“Hey! Kau fikir kepada siapa aku berbicara eoh?!”

“Pada bintang”

Tangannya dengan ringan mentoyor puncak kepalaku. Tidak sakit memang, namun aku mengeluarkan ringisan yang agak berlebihan, menarik perhatiannya lebih lagi.

Angin semilir menghembus tubuh kami. Yang dengan nakalnya menghancurkan poni yang kutata ber-menit menit lamanya. Aku membenahi poniku yang memang sedikit berantakan.

“Hatchi! Hatchi!”

“Kenapa kau tidak memakai masker mu?!”

Aku menampilkan deretan gigi putih ku. Cengiran lebih tepatnya. Ia setengah bangkit dan merangkak menuju kedalam rumah pohon kami dan tak lama ia keluar dengan masker ungu volkadot digenggamannya. Ia kembali duduk disampingku, membenahi posisinya sebelum memakaikan masker itu ke wajahku. Dengan lembut ia menyisipkan rambut depanku ke daun telinga, agar memudahkannya melingkarkan karet masker itu disana.

Aku tak yakin jika wajahku terlihat normal saat ini. Pasalnya suhu didalam tubuhku meningkat, dan lagi jantungku meronta memintaku mengeluarkannya karna sesak. Kami kembali diam sampai kemudian ia memulai percakapan yang sama.

“Pernahkah kau merasa memiliki sesuatu, namun nyatanya itu bukan milikmu. Namun hatimu tetap berusaha mengatakan bahwa nantinya itu akan menjadi milikmu?”

Aku menggaruk sisi kepalaku kebingungan. Aku adalah tipe gadis yang tak suka sesuatu yang rumit.

“Hyak Lee Jung Hwan! Kau sedang mengetes kemampuan bahasa ku?!”

“Ani!”

“Lalu? Apa yang kau katakan? Itu membuatku pusing!”

“Sudah lupakan saja!”

Aku setuju. Aku tak ingin membahas pembicaraan memusingkan seperti itu. Lagipula sejak kapan si bodoh itu memiliki kemampuan bahasa yang bagus?

“Hya! Gong Hyu Bi! Kita tidak pernah membicarakan tentang mimpi kita. Benarkan?”

Aku mengangguk. Benar. Sudah 19 tahun kita saling mengenal namun pembicaraan mengenai masa depan tak pernah sekalipun disinggung.

“Umm untuk impian ku saat ini hanya satu. Mengambil gambarku yang sedang berada di festival bunga canola. Hehehe aku ingin sekali difoto saat sedang mencium kelopak bunga canola” Kudengar kekehan menyeruak dari sisi kanan tubuhku.

“Hyak itu mustahil !”

“Itulah kenapa hal tersebut hanya bisa kujadikan impian. Kalau kau? Apa impianmu?”

Tanpa berfikir panjang ia menjawab

“Banyak! Mau kusebutkan satu persatu?!”

Mendengar kata “banyak” keluar dengan begitu cerianya aku bergidik ngeri dan segera menggelengkan kepalaku. Baginya satu sama dengan dua, sedikit sama dengan banyak dan banyak sama dengan tidak terhitung bahkan tak tertembus logika sekalipun.

“Satu saja bodoh!” Ia terkekeh.

“Impian ku adalah menikah menggunakan masker ditengah – tengah kebun bunga canola”

“Hyak kau menyindirku?!”

“Ani! Aku sedang melamarmu bodoh!”

“MWO?!”

“Aku menyukaimu. Ani. Aku mencintaimu. Aaasssh tidak maksudku aku menyayangimu !aish apa yang kukatakan!!!”

Aku tertawa melihat ekspresinya saat ini. Sandeul memang bodoh!

“T-tunggu dulu.”

Kuperhatikan dengan seksama kelakuannya yang tak ada habisnya membuat perutku terkocok. Dengan paniknya ia merogoh sakunya hanya untuk mengambil sebuah benda elektronik dari sana. Beberapa detik setelahnya ia sama sekali tak bergeming. Matanya memperhatikan layar menyala dihadapannya dengan seksama.

“MWOGAYO?!”

“Hyak! Ada apa?!”

“Kata – kata pernyataan cinta yang aku copy dan telah aku susun hilang!!”

“Ye?! Kau menyatakan cinta saja mengkopi milik orang lain?!”

Entah aku merasa sangat marah padanya. Kufikir sangat menyedihkan bila orang yang mengucapkan kata – kata cintanya untuk kita tidak sepenuh hati dari yang ia rasakan. Aku mendengus sebal sekaligus berpikiran untuk pergi dari hadapannya, namun tangannya dengan cepat meraih lenganku. Merujuk.

“Gong Hyu Bi…”

” Kau tau? Meskipun senyummu tidak semanis Lee Hyeri. Matamu tidak seindah Lee Hyeri. Dan bentuk tubuhmu tidak sebagus Lee Hyeri. Namun, kau… Membuat Lee Sandeul berdebar untuk pertama kalinya. Dan itu membuatku sadar. Kata – kata noona ku benar. Entah ini kutukan atau bukan namun aku bahagia menghabiskan seluruh hari pertama musim semiku denganmu. Gong Hyu Bi”

Aku bergidik namun aku menahan haru disaat yang bersamaan. Cinta pertamaku. Lee Sandeul. Mengatakan apa yang selama ini ingin aku dengar darinya. Yang pasti bukan dengan nama Hyeri disana.

” Sepertinya langit sudah menggariskan takdir buruk kita ini. Penyakitku seperti sengaja dibuat agar kau selalu menjagaku di hari pertama musim semi dan membuat kutukan itu benar – benar nyata” “Aku menyukaimu. Sejak dulu. Lee Sandeul.”

Cinta monyet, cinta pertama, cinta kecil, cinta bohongan, cinta lama, cinta anak anjing atau apalah itu kini menjadi cinta selamanya. Garis langit memang tidak pernah salah menuju.

-Fin-

Sepertinya ini terlalu panjang untuk sekedar menjadi Ficlet -,- tapiiii ya mau gimana lagi ?! 2000-3000 words itu udah pasti masuk ficlet ._.

Buat yg masih nunggu Love Text, besok bakal di post 2 chap sekaligus !

So, Stay tune~😉

 

One thought on “SKYLINE

give me your thoughts ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s