Aren’t Meant to be

Image

 

Main Casts : Cloe (OC), Baro and AOA’s Seolhyun

Genre : Romance, AU, Surrealism, Angst

Length : Ficlet (859 Words)

Rate : G

also posted on my own blog

“Maaf—- aku terlanjur menyukaimu”


 

Seolhyun, seorang gadis berwajah bulat dan berambut sedikit bergelombang –yang sengaja dibuat demi mengakali gembung pipinya tengah menatap hening sebuah figura yang baru saja diterimanya beberapa menit yang lalu dan kini ia biarkan tergeletak diatas tempat tidurnya.

Tak lepas dari pertanyaan akan siapa orang yang mengirimkan figura itu, sebuah lukisan sabana yang menampakkan sebuah kecantikan alam yang tak pernah ia lihat sebelumnya.

“Atau… Orang itu?”

Gumamnya, tawa pun tak lantas luput dari bibirnya yang semula mengatup damai.

“Seol, kau kenapa?”

Cloe, seorang gadis yang ber-imigran dari Jerman beberapa tahun lalu itu tiba dengan sebuah kantung coklat berisi banyak persediaan makanan mereka beberapa hari kedepan,

Gadis itu kemudian duduk di bibir tempat tidur sedang kantungnya ia letakkan di sisi antara bawah tempat tidurnya dengan sebuah meja kecil yang berada disisi lain.

Mata biru jernih khas Jerman itu menatap lamat-lamat figura disampingnya, lantas ia menatap Seolhyun yang disambut gidikan bahu.

“Menurutmu, apa mungkin laki-laki itu? Laki-laki yang kau kenalkan padaku kemarin?”

“Entahlah”

“Cloe! Kau punya nomor handphone-nya? Dia kenalan-mu bukan?”

Cloe merogoh saku-nya, dan sial! Tak ada! Sekali lagi Cloe merogoh saku celana, jaket, bahkan didalam kantung belanja. Benda portabel itu tak ada.

“Kau baik-baik saja?”

“Seol, handphone-ku!”

“Ada apa dengan handphone-mu?”

Tanpa menjawab, gadis belasteran itu berlari menuju pintu, selingan langkah pun meramaikan keadaan kamar yang sebelumnya hening. Ia memang tak memiliki firasat kuat yang akurat, akan tetapi bodohnya ia akan selalu mengikuti kata hatinya itu.

Kakinya berhenti tepat didepan bangunan yang beberapa menit lalu dikunjunginya, dan tak selang berapa lama ia kembali.

Tak perlu bersusah untuk mencari benda yang ia maksudkan, sesosok pria berdiri diantara anak tangga dengan menjinjing Samsung putih lengkap dengan gantungan beludru oranye dan perhiasan bendera Jerman ditangannya.

“Bodoh”

“Maaf, aku terlalu terburu-buru tadi. Perutku sakit”

“Kau tak pintar berbohong”

Cloe memilih maju dan menghampiri laki-laki itu, anehnya laki-laki tersebut ikut melangkah dan menghampirinya. Begitu berhadapan dalam jarak dekat, telunjuk putih pemuda itu mendarat mulus ke dahi-nya.

“Ada yang ingin kau tanyakan padaku. Benarkan?”

Cloe tertegun, sial! Dimana laki-laki itu belajar cara membaca pikiran seseorang, bahkan seseorang seperti dirinya.

Mata bulat laki-laki itu menyambutnya, Cloe tak bisa menghindar. Ia memaku dan mau tak mau ia harus bertanya.

“Baro”

“I-ini soal lukisan itu”

Baro sadar akan sesuatu, wajah Cloe memucat lebih pucat dari terakhir mereka bertemu satu jam yang lalu,ia meraih penutup telinga dikepalanya dan memakaikan itu –terlihat seperti sebuah aksesoris tambahan di rambut pirang Cloe.

“Kau kedinginan, berikan tanganmu”

“Dan kau akan hangat”

Cloe diam sejenak, merasakan hangatnya genggaman tangan Baro yang tak hentinya mengusap kedua telapak es-nya. Bahkan mencairkan gumpalan kekecewaan yang dipikulnya tadi. Cukup lama ia terpesona pada kehangatan yang Baro bagi, bahkan senyum yang menampakkan sebuah guratan di sisi mata pria itu. sebelum pada akhirnya ia menyadari satu hal yang tak boleh dilupakannya. Lantas ia menarik pergelangannya dan segera memasukkan itu disaku jaket pastelnya.

“aku belum selesai bertanya tadi”

“Lukisan sabana itu, kau yang membuat-nya kan?”

Belum menjawab, laki-laki itu memilih berjalan sedikit dan menyampirkan tangannya pada bahu Cloe, memaksa gadis itu melihat kearah yang sama dengannya sehingga kini mereka bersisian sedang sebelumnya berhadapan.

Pemuda itu meringkuh pundak Cloe semakin erat hingga kepala mereka kini berdekatan, Baro memulai desahan suara berat-nya mengetes mungkin. kemudian ia lanjut menjawab

“Kau tau itu. Bagaimana? Apa teman sekamar-mu itu menyukainya?”

Cloe diam, bibir pucatnya bertambah kelu, mata-nya pun kian memanas seperti akan melelehkan sebuah benda didalam sana dan menjadikannya aliran air mata. Baro tak boleh tau perasaan-nya.

“A-aku tidak tau, mungkin iya atau bisa jadi tidak”

“Tapi ia memang menyukai pemandangan alam bukan?”

“SUDAH KU BILANG !! AKU TIDAK TAU !!”

Dalam ke-gamangan itu Baro termangu dengan pekikkan Cloe yang dianggap-nya tak biasa itu, Cloe yang dikenalnya sebagai seorang gadis belasteran–Korea Jerman penjunjung nilai etika terasa sangat berbeda. Lambat laun lengannya melonggar dari pundak gadis itu dan menatap nya curiga.

“Kau kenapa?”

“M-maaf”

Surai pirangnya bergerak seirama langkah gadis itu yang berusaha lari namun Baro dengan segera menahan lengannya, meskipun enggan namun gadis itu harus berhenti.

Tubuhnya terasa lemas, tak heran kakinya pun terasa berat. Ia tak mampu menoleh dan menunjukkan air mata yang terlanjur mengalir membasuh wajah pucatnya. Perasaan-nya terasa tercabik. Padahal ia yang lebih dulu menyukai Baro, laki-laki yang selalu bersama dengannya sejak kecil. Menemani gadis itu selama beberapa tahun di Jerman, sampai saat anak itu harus kembali ke Korea dan meninggalkan-nya.

Baro, laki-laki yang menjadi alasannya datang ke Korea 5 tahun yang lalu tetap menjadi laki-laki yang disukainya. Meskipun terasa tabu.

“Apa ada sesuatu yang terjadi dengan bibi Fritz? Atau paman Cha?”

“Atau sesuatu terjadi dengan beasiswa-mu? Teman-temanmu? Atau Seolhyun?”

“Cloe! Jawab aku!”

“Baro…”

Baro diam dan menatap bagaimana Cloe melepaskan genggaman tangan Baro dilengannya lantas berbalik menghadap laki-laki itu. Perlahan Cloe mendangakkan kepalanya, menyingkirkan surai yang menutupi sebagian wajahnya. Ia tak lagi takut, tidak juga gentar.

“Maaf—- aku terlanjur menyukaimu”

Senyuman pahit terukir berikut air mata disana, wajahnya memerah begitu juga putih yang menaungi bola mata biru gadis itu. Alis matanya turun dan saling bertautan. Sebuah air wajah paling langka yang Baro lihat dari seorang Cloe.

“T-tapi, Cloe .. Aku menyukai Seolhyun”

“Aku tahu”

“Dan juga kita ini kan–”

“AKU TAU ..”

.

.

.

“Kita adalah sepupu”

-Fin-

One thought on “Aren’t Meant to be

give me your thoughts ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s